Selasa, Mei 27

Melayu dan Kutukan Marhalim

Adalah fakta sastra Indonesia lahir dari bahasa Indonesia yang berindukkan bahasa Melayu. Bagaimana Anda melihatnya?

Melayu bagi saya adalah sebuah “kutukan”. Artinya, Melayu itu tidak bisa tidak harus ada dalam karya-karya saya. Sebab ia hidup dalam karya itu sendiri. Ia ikut ke mana pun saya pergi. Makanya ketika saya masih di Yogyakarta, dan menulis sajak dengan kekuatan lokal Melayu, saya pun sempat dituduh sebagai penyair yang tak mampu berbadaptasi, penyair yang kakinya di Yogya tapi hatinya di kampung. Tapi apa boleh buat. Malin Kundang pun sampai kini tak bisa mengelak untuk tidak jadi yang “terkutuk” tersebab takdirnya memang begitu...ha...ha...
Saya berusaha menghindar, mengelak, tapi ia datang bagai sebatan rotan di tubuh saya, membalur, membekas jadi barut, bersebati. Dan bagi saya, inilah ‘Melayu ideologis‘ itu, tak cuma sekedar “Melayu Biologis.”

.:. Selengkapnya baca

Jurnal Nasional Gelanggang
Jakarta | Minggu, 13 Apr 2008
Identitas dan Kekuatan Kemelayuan

Rabu, November 28

20 Sajak Cinta Neruda

Ini situs memuat 20 sajak itu.

Rabu, September 19

Pentas 30 Penyair Nusantara di Yogyakarta

Rabu, 22 Agustus 2007

Yogyakarta, Kompas - Sebanyak 30 penyair dari berbagai daerah di Indonesia akan ikut ambil bagian dalam Festival Puisi Nasional "Tongue in Your Ear" di Sasono Hinggil, Alun-alun Kidul, 23-24 Agustus nanti. Kegiatan ini menjadi puncak acara sastra dalam Festival Kesenian Yogyakarta XIX.

Festival puisi yang melibatkan penyair dari luar Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi media apresiasi puisi yang lebih luas, tak hanya terbatas pada tataran lokal semata. "Melalui kegiatan ini, kami berharap agar FKY dapat menjadi referensi bagi kegiatan seni di Indonesia," kata Sekretaris Divisi Sastra FKY Raudal Tanjung Banua dalam jumpa pers di Yogyakarta, Selasa (21/8).

Dari ke-30 penyair tersebut, delapan di antaranya berasal dari Yogyakarta. Semua penyair diundang atas pertimbangan mutu karya dan konsistensi mereka selama ini. Selain itu, kurator juga mempertimbangkan para penyair yang hadir mewakili berbagai generasi. Beberapa penyair yang dijadwalkan hadir membacakan puisinya, antara lain Hamdy Salad, Bustan Basir Maras, Afrizal Malna, Hasan Aspahani, Tan Lioe Ie, Wayan Sunarta, Acep Zamzam Noor, dan Badaruddin Emce. Para penyair tersebut akan tampil bergantian selama tiga hari pada pukul 19.00 sampai selesai.

Lebih jauh, Ketua Divisi Sastra FKY Saut Situmorang mengemukakan, kegiatan ini juga diselenggarakan untuk menyikapi kondisi sastra Indonesia yang ada saat ini.

Menurut dia, saat ini terjadi dominasi prosa yang dilakukan oleh penerbit-penerbit besar. Dunia puisi pun semakin terpinggirkan. Kegiatan ini pun menjadi salah satu upaya untuk terus menggiatkan kehidupan dan apresiasi puisi dalam sastra Indonesia.

Selain Festival Puisi Nasional "Tongue in Your Ear", rangkaian kegiatan sastra FKY juga akan menampilkan pembacaan puisi lisan atau spoken word bertema "Yogyakarta Literature League: Word Aloud" di halaman Popeyes Chicken and Seafood Resto, pada 25 Agustus.

Kegiatan ini akan mengapresiasi seni pelisanan, seperti slam poetry, monolog, storytelling, orasi, dan musik rap. Beberapa diskusi sastra juga akan digelar selama 23-24 Agustus. (DYA)

Senin, Agustus 20

Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri

IGNAS KLEDEN

Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi.

Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut.

Selasa, Juli 10

Mencari Arti Sajak

Maka segenap majas, bunyi, jeda sunyi, yang berkelindan menjadikan puisi sebuah medan ambiguitas yang membuat pembacaan sering tak mudah, meski bisa tetap mengasyikkan. Memang, kecenderungan mula-mula seorang pembaca adalah mencari arti yang dianggap terkandung di dalam kata-kata yang tersusun sebagai komposisi. Tetapi arti barangkali tak ditemukan "di dalam" rentetan tanda bunyi itu, melainkan dalam ruang persentuhan antara teks dan benak pembaca-sebuah persentuhan yang tak hanya melibatkan akal, tetapi juga indra dan barangkali naluri. Di situlah terhampar kancah pemaknaan yang bisa terus meluas, berubah, berkembang, setiap kali.

.:. Selengkapnya baca Hasif Amini "Derau", Kompas, Jumat 4 April 2003